bisa_basa_basi

semoga apa yang ada di bLog ini bermanfaat bagi yang membaca,,,

Lampu dengan tenaga darah manusia,,


 Bagaimana, jika setiap kali anda ingin menyalakan lampu, maka kita harus berdarah terlebih dahulu? Maka dengan demikian, kita akan berpikir dua kali sebelum menerangi ruangan tersebut, dan menggunakan energi yang ada!
Ide dibalik ‘lampu darah’ tersebut, ditemukan oleh Mike Thomspon, seorang designer Inggris yang tinggal di Belanda. Lampu tersebut mengandung Luminol, senyawa kimia yangdigunakan ilmu forensik untuk mendeteksi keberadaan darah pada Tempat kejadian perkara (TPK). Luminol bereaksi dengan besi (ferum) pada sel darah merah dan membuat terang berwarna biru. Untuk menggunakan lampu tersebut, kita harus mencampurnya didalam bubuk aktivasi. Kemudian, kaca tersebut dipecahkan, lalu teteskan darah ke dalam bubuk.
Thompson mendapatkan ide ini beberapa tahun yang lalu, ketika sedang studi master pada Akademi Design Eindhoven di Belanda. Dia melakukan penelitian mengenai energi kimia untuk proyek tersebut, dan mempelajari kegunaan luminol.
‘ Bahwa energi menjadi sesuatu yang mahal, hal tersebut selalu membayangin pikiran saya. Penelitian ini adalah cara supaya kita berpikir secara alternatif mengenai cara menggunakannya’, Kata Thompson. Lampu tersebut dimaksudkan untuk ‘menantang persepsi manusia mengenai asal usul dari sumber energi kita’, demikian kata dia. Hal ini akan memaksa pengguna untuk ‘ berpikir ulang mengenai betapa berharganya energi, dan betapa selama ini telah terjadi pemborosan energi.’
Fakta bahwa lampu tersebut hanya bisa sekali digunakan, menjadikannya semakin pantas untuk jadi bahan renungan.
‘Kita harus dapat memutuskan, kapan menggunakan lampu tersebut, sebab ia hanya bekerja sekali,’ Kata Thompson. ‘ Hal itu menyebabkan kita merasa sayang untuk melakukan pemborosan.’
Thompson mendesain dan memproduksi lampu tersebut pada 2007, dan membuat video proyek tersebut pada tahun ini.

aiR Laut sEmaKin asam ,,apa maksudnya???

Seiring dengan isu pemanasan global,  banyak sekali studi yang mengarah pada dampak dari bertambahnya suhu bumi terhadap berbagai makhluk hidup yang ada di lautan, salah satunya proses peningkatan keasaman laut.
Peningkatan keasaman laut adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perubahan kimia di lautan dunia, terutama sebagai akibat pembakaran bahan bakar fosil. Para ilmuwan laut khawatir bahwa perubahan tingkat pH pada lautan akan memiliki konsekuensi berat bagi berbagai biota dan ekosistem laut.
Beberapa fakta penting yang perlu untuk diperhatikan adalah hingga setengah dari karbon dioksida (CO2) yang dikeluarkan oleh pembakaran bahan bakar fosil selama 200 tahun telah diserap oleh lautan di dunia. CO2 yang terserap dalam air laut (H2O) membentuk asam karbonat (H2CO3), menurunkan tingkat pH air dan membuatnya lebih asam. Hal ini meningkatkan konsentrasi ion hidrogen dalam air, dan membatasi akses organisme ke ion karbonat, yang diperlukan untuk membentuk bagian-bagian penting dari organisme tersebut.
Sejak Revolusi Industri, telah terjadi peningkatan tajam CO2 dalam atmosfir sebagai akibat dari aktivitas manusia, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil. Lautan telah menyerap sampai setengah dari CO2 kelebihan ini, yang telah mengakibatkan perubahan kimia dalam permukaan air laut. CO2 dalam air, yang mengarah pada pembentukan asam karbonat, menyebabkan permukaan lautan pH turun sebesar 0,1 unit, dan diproyeksikan turun lagi pH 0,3-0,4 unit pada akhir abad ini. Pergeseran zat-zat kimiawi dalam lautan tidak hanya meningkatkan keasaman, tapi mengurangi ketersediaan ion karbonat, yang banyak makhluk gunakan untuk membangun kerang dan kerangka dari kalsium karbonat.
Penurunan ketersediaan ion karbonat memberikan arti bahwa organisme, seperti plankton, karang dan moluska, berjuang untuk membangun atau memelihara struktur pelindung atau pendukung mereka.
Nilai pH di lautan samudera dunia tidak mempunyai nilai yang sama dan konsisten. Para peneliti percaya bahwa daerah-daerah dengan pH relatif rendah (daerah ungu pada peta di atas), seperti bagian timur samudera Pasifik, bisa menjadi hasil dari upwelling (pengangkatan massa air laut dalam), lebih dingin, lebih kaya CO2 perairan. Akan tetapi, tidak ada daerah yang dapat menghindar dari dampak turunnya nilai pH.
Akibatnya, ahli biologi kelautan mengatakan bahwa sejumlah spesies dan ekosistem menghadapi masa depan yang tidak pasti:
  • Terumbu karang perairan hangat (daerah tropis)
Bukti menunjukkan bahwa tingkat kalsifikasi karang ini akan berkurang hingga 60%, kata peneliti AS menulis di jurnal Current Biology. Mereka mengatakan bahwa penurunan angka sebesar ini bisa mempengaruhi struktur karang, seperti pertumbuhan karang tergantung pada kemampuan hewan karang untuk membangun lebih cepat daripada pengikisan (erosi) kerangka terumbu. Struktur terumbu yang lemah cenderung akan rentan terhadap erosi akibat dari badai dan gelombang yang besar.
  • Karang perairan dingin
Ditemukan di seluruh lautan di dunia, karang perairan dingin juga dapat menyediakan habitat penting bagi beberapa spesies ikan penting secara komersial. Ramalan menunjukkan bahwa sekitar 70% dari karang yang ada berada dalam ancaman pada akhir abad ini.
  • Plankton
Organisme kecil ini memainkan peran penting dalam rantai makanan di lautan. Beberapa kelompok plankton menghasilkan kalsium karbonat, dan bisa melihat distribusi mereka yang dibatasi oleh peningkatan keasaman laut.
Para ilmuwan setuju bahwa diperlukan lebih banyak lagi penelitian untuk lebih memahami dampak dari naiknya keasaman lautan (turunnya nilai pH) pada makhluk-makhluk kecil.
Beberapa spesies, seperti coccolithophores (alga bersel tunggal), telah menunjukkan penurunan tingkat kalsifikasi ketika terkena air kaya CO2. Akan tetapi, spesies lainnya tidak terkena dampak yang begitu besar.
  • Invertebrata
Beberapa moluska, termasuk kerang dan tiram, diperkirakan akan terpengaruh oleh peningkatan keasaman laut. Dampak itu bisa berupa struktur tubuh yang kurus atau kerangka kerang yang cacat. Juvenil invertebrata lebih rentan daripada biota yang sudah dewasa terhadap keterbatasan ion karbonat, yang dapat memiliki konsekuensi jangka panjang di dalam populasi. Tetapi tidak semua habitat menderita akibat dari peningkatan keasaman laut. Sebagai contoh, tumbuhan lamun tumbuh lebih baik di perairan yang kaya CO2. Lamun menawarkan makan dan situs pemijahan berharga untuk berbagai spesies, termasuk sejumlah ikan bernilai komersial. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat apakah manfaat lokal dari tumbuhan lamun tidak sebanding dengan gangguan yang lebih luas ke rantai makanan laut.
Siklus karbon bumi, pertukaran CO2 antara darat, laut dan udara, umumnya dimaksudkan untuk berada dalam kesetimbangan. Namun, aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan, dapat peningkatan jumlah CO2 yang dilepaskan ke atmosfir. Tapi tidak semua CO2 terkunci tetap berada di atmosfer. Sampai dengan 50% dari emisi diserap oleh lautan. Lautan menyerap karbon dalam dua cara utama – secara fisik dan biologis.
Secara fisik, CO2 larut ke dalam air laut dingin dekat kutub, dan ini dibawa ke laut dalam oleh arus tenggelam, di mana CO2 tinggal selama ratusan tahun. Seiring waktu, pencampuran termal membawa air kembali ke permukaan dan laut memancarkan karbon dioksida ke atmosfer di daerah tropis. Sistem alami ini membantu memompa karbon dari atmosfir menuju lautan untuk disimpan. Penyerapan biologis CO2 melibatkan fitoplankton, yang menggunakan sinar matahari, air dan CO2 untuk menghasilkan karbohidrat dan oksigen. Ketika plankton dan hewan laut yang memakan plankton mati, mereka tenggelam ke dasar laut. Sejumlah kecil karbon dalam makhluk pada akhirnya terkubur dan disimpan dalam sedimen.
‘Mekanisme umpan balik’
Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa proses alami “pompa karbon” menunjukkan gejala telah terganggu. Sebagai contoh, peningkatan keasaman laut plankton dapat mengurangi produksi plankton, sehingga mengurangi penyerapan CO2 dari atmosfer. Secara teori, CO2 ekstra di atmosfer dapat menyebabkan percepatan pemanasan global, yang akan menghangatkan lautan. Akibatnya, air hangat tidak akan mampu menyerap karbon dioksida sebanyak yang bisa dilakukan oleh lautan yang lebih dingin. Jadi jika CO2 kurang diserap dari atmosfir, akan menghasilkan lebih banyak efek rumah kaca yang dapat menghangatkan planet bumi ini.
Potensi “mekanisme umpan balik” yang dapat mengganggu sistem iklim planet ini adalah salah satu alasan mengapa para ilmuwan kelautan terpanggil untuk mendesak adanya tindakan yang harus diambil untuk menstabilkan, dan akhirnya dapat mengurangi emisi karbon.

galau

aku kan bertahan mesty takkan mungkin menerjang kisahny walau perih,,,,

itu tak hanya lantunan lagu,,namun itu jg adL kisah yg q alami,,cinta smp yg kini data ng saat q tLah meneguhkan keyakinan q untuk menyempurnakan ibadah q tp keykinan q goyah.kenapa km datang kembali di saat yg tak tepat langkah q sudah jauh  dan tak mungkin tuk mundur kembali bersamamu langkah ku ini bukan main-main menyempurnakan ibadah merubah yg haram menjadi halal,menyatukan ikatan,menguatkan tali persaudaran,dan ini juga menyangkut martabat dan  kehormatan q dan jg orang tua Q.
tp tak bisa ku pungkiri jika tak ada yg bs menggantikan mu mmungkin km pernah pergi dan kini km kmbali..
kembali bertahta d kerajaan cinta yang fana namun hampir sempurna.Q harus berbuat apa??ku tak ingin menyakiti hati orang lain kelam atau cerahny masa depanQ di tentuk skrg dan hanya yg menentukan bukan dia,km ataupun orang tua Q .tp jalanq rasany sudah tertutup untuk kembali pd mu,,,,,,,
maaf kan aku NU,,,,Q g bisa kembali lagi walaupun Q g bisa bohongi diriku sendiri,,,,,

terlalu indah d lupakan terlalu sedih di kenangkan setalah aku jauhberjalan dan kau ku tinggalkan 
betapa hati ku bersedih ,,mengenang kasih dan sayang mu setulus pesanmu kepada ku engkau kan menunggu,,,andai kan kau datang kembali jawaban apa yang ku beri ada kah jalan yang kau temui untuk kita kembali lagi,,,,bersinarlah bulan purnama seindah serta tulus cintanya,,,bersinarlah terus sampai nanti,,,,
lagu ini Q akhiri,,,,,

lagu yang terlantun dr lubuk hati yang ku persembahkan untukmu,,,,yang punya sejuta cinta yang sebenarnya bs mmbuatku bahagia tp,,,,kini smua tinggal kenangan,,,

kurangi sampahmu sekarang juga,,!!!

Sampah membutuhkan waktu cukup lama untuk terurai oleh alam. Gelas atau kaca misalnya, butuh ratusan tahun untuk terurai. Lebih parah lagi, sebagian sampah seperti styrofoam tidak dapat terurai dan mengandung bahan berbahaya. Informasi di atas tertera di sebuah papan besar hijau di zona sampah Green Festival yang digelar di Parkir Timur Senayan Jakarta, 5-6 Desember.
Berdasarkan paparan di papan zona sampah, gelas atau kaca, adalah sampah yang paling lama terurai, disusul kaleng yang membutuhkan 80-100 tahun untuk terurai, kemudian plastik yang terurai dalam 50-80 tahun, kertas, 2-5 bulan, dan yang paling mudah terurai adalah sampah organik yang membutuhkan minimal satu bulan. Sayangnya, belum banyak masyarakat yang tahu lamanya sampah-sampah ini terurai.
Seorang pengunjung, Marisa, mengaku terkejut melihat informasi tentang sampah ini. "Ya, surprise. Saya baru tau kalau kaca butuh ratusan tahun gini. Setahu saya styrofoam lama terurai, tapi ternyata malah tidak bisa terurai. Saya baru tahu," ujar Marisa yang datang dari Jati Bening, Minggu (6/12) di zona sampah Green Festival.
Untungnya, sebagian masyarakat seperti Marisa sudah mulai mengurangi konsumsi bahan yang sulit terurai seperti plastik dan styrofoam. "Kalau saya sudah mulai mengurangi pemakaian plastik dan styrofoam ya," aku Marisa.
Zona sampah adalah salah satu zona edukasi yang di gelar Green Festival 2009. Selain berisi informasi mengenai sampah, di zona sampah pengunjung dapat menyaksikan workshop pengelolaan sampah seperti pembuatan tas dari plastik bekas detergen atau turut menyumbang sampah untuk bank sampah. Pengunjung pun diajak untuk mengurangi sampah yang mereka hasilkan, misalnya dengan membawa tas belanjaan sendiri dan menggunakan barang yang bisa dipakai berkali-kali.
Selain zona sampah, terdapat zona kendaraan, air, dan pohon yang berisi fakta-fakta lingkungan terkait zona tersebut. Seperti yang diberitakan sebelumnya, Green Festival merupakan kampanye lingkungan tahunan Green Initiative Forum yang bertujuan menyebarluaskan isu pemanasan global. Digelar di Parkir Timur Senayan Jakarta, 5-6 Desember, Green Festival cukup menarik minat masyarakat terlihat dari banyaknya pengunjung yang hadir di hari kedua ini.

Cinta Bisa Kurangi Rasa Sakit


Ada lagu yang bilang cinta itu menyakitkan. Tapi faktanya cinta juga menyenangkan. Bahkan bisa menghadirkan perasaan nyaman. Secara ilmiah, ternyata terbukti bahwa cinta memang membawa kebaikan. Sebuah studi melibatkan 25 orang perempuan yang diikutkan dalam eksperimen.
Mereka diminta untuk berpegangan tangan dengan pasangannya, tangan orang asing, dan memegang bola. Sementara mereka memegang objek berbeda-beda itu, para perempuan tersebut juga diberi stimulus rasa sakit. Hasilnya, rasa sakit itu berkurang saat mereka memegang tangan pasangannya.
Tes selanjutnya, masih dengan stimulus rasa sakit. Setiap perempuan diperlihatkan gambar kursi, orang asing, dan pasangannya. Cukup dengan melihat foto pasanga saja, ternyata rasa sakit terasa berkurang. Wow, luar biasa bukan efek rasa cinta itu?
“Percobaan ini membuktikan bagaimana perasaan kita bisa berubah tergantung pada dukungan pengaruh manusia lain,” Naomi Eisenberger, asisten profesior psikologi UCLA yang terlibat di studi ini. Menurut Eisenberger, secara tipikal kita akan berpikir bahwa dukungan sosial bisa membuat kita merasa lebih baik. Ini merupakan jenis dimana kita memiliki kebutuhan emosional akan kehadiran orang lain. Bahkan dari studi ini, cukup dengan melihat foto orang yang kita sayangi saja bisa lumayan berpengaruh mengurangi rasa sakit.
Studi ini memang masih tergolong studi kecil dan memerlukan studi lanjutan lebih jauh. Detil dari hasil studi ini dipublikasikan di jurnal Psychological Science. Jadi, kalau kita sedang sakit, jika orang yang kita cintai sedang jauh, lebih baik memandangi fotonya saja. Sudah lumayan meredakan rasa sakit.
Diterjemahkan secara bebas dari LiveScience