bisa_basa_basi

semoga apa yang ada di bLog ini bermanfaat bagi yang membaca,,,

Woles Bro...

Pagi-pagi di perjalanan menuju kantor saya mengecek timeline twitter saya, dan isinya penuh dengan komentar para netizen tentang debat capres tadi malam yang disiarkan live di beberapa televisi nasional. Memang ramai betul, ada yang menghujat, memaki, tapi ada juga yang memuji. Saya yang tak punya kepentingan apa-apa merasa risih dengan ulah para pendukung yang maaf menurut saya norak, karena mereka sering posting hal-hal yang kurang baik tentang para capres. Kubu A menjelekkan Kubu B, begitu pun sebaliknya. Tapi, dosa gak ya, baca timeline yang banyak nggrenengi para capres?? Hehehe.....

Saya jadi ingat pembicaraan antara tukang asongan dan tukang ojek di depan kios rosalia indah. Ketika saya menunggu bus untuk berangkat ke kantor, kurang lebih seperti ini pembicaraannya, “Arep Prabowo utowo Jokowi sing dadi presiden, aku yo tetep wae dodol ngene iki lha koe yo tetep wae ngojek. Ora sah podo umuk mung amargo siji ndukung Prabowo, sijine ndukung Jokowi” Ucap tukang asongan kepada tukang ojek, si tukang ojek pun hanya manggut-manggut mengamini, perkataan si tukang asongan. Tak lama bus yang saya tunggu pun datang dan saya meninggalkan mereka yang masih bercakap-cakap. Memang benar adanya siapa pun presidennya, itu tidak serta merta mengubah nasib kita (red: masyarakat) secara keseluruhan. Yang dapat mengubah nasib kita yang kita sendiri dengan bekerja keras dan tawakal tentunya. Tapi bukan berarti kita harus jadi golongan putih alias golput! Ingat kata Dodit, “Guys, golput bukan solusi”

Sudah jadi rahasia umum kalau negara kita punya banyak kasus korupsi, tapi bukan berarti sudah tidak ada lagi orang baik di negara ini. Jumlah penduduk di Indonesia tuh banyak banget, pasti banyak juga yang baik. Hmm,, saya jadi inget kisah sesendok madu, jadi begini ceritanya. Alkisah, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warganya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit ditengah kota. Seluruh warga kota pun memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya. Tetapi dalam pikiran seorang warga kota ya, sebut saja si Fulan terlintas suatu cara untuk mengelak, “Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu. Aku akan membawa air dan Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mata seseorang. Sesendok airpun tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota.” Pikir si Fulan. Dan tibalah waktu yang telah ditetapkan. Apa yang kemudian terjadi? Seluruh bejana ternyata penuh dengan air. Rupanya semua warga kota berpikiran sama dengan si Fulan. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.


Nah, ya, cerita diatas nyentil gak tuh? Kalau kalian mengaku cinta Indonesia, gak usah deh koar-koar menjatuhkan salah satu capres. Lebih baik kalian tularkan aura positif ke lingkungan kalian untuk menjadi pemilih yang cerdas. Tidak menerima serangan fajar, tidak memposting hal-hal negatif tentang para capres, (karena udah banyak di socmed dan cuma bikin spam doank). Pelajari profil dan track record tentang para capres dari mana saja (tapi harus tetap hati-hati ya, pakai logika dan hati nurani anda :D). Nah, yang paling penting mari ajak sanak saudara, adik, kakak, tetangga, suami/istri, pacar, sahabat, gebetan, pokoknya semua orang yang kamu kenal yang sudah memiliki hak pilih untuk datang ke TPS tanggal 9 Juli nanti. Dan selalu ingat kata Dodit “Guys, golput bukan solusi.... jadi kalian harus..... *acungkan kelingking  ungu*:D.